Jingking, Raja Jelajah Pantai Selatan

sang raja jelajah pantai selatan Sang raja jelajah pantai selatan, begitulah kira-kira julukan yang tepat untuknya. Kepiting penghuni pantai berpasir, banyak ditemukan sepanjang pesisir selatan Jogja.

Dengan tubuh kecil yang unik, yakni terlihat melebar seperti ketam pada umumnya, jingking mempunyai kecepatan lari yang luar biasa. Jumlahnya yang melimpah, menjadikan kepiting ini seperti ‘mainan’ wajib para pengunjung pantai.
Tak bisa diremehkan, menangkap jingking lebih susah dari yang kita bayangkan. Menguasai hampir seluruh daratan pantai yang basah, hewan ini pasti menarik perhatian orang yang melihat untuk menangkapnya. Diam pada jarak aman, namun segera berlari cepat ketika kita terlalu dekat. Posisi lari miring dan kecepatannya yang luar biasa, ditambah manuver zig-zag jingking membuat rata-rata orang kewalahan menangkapnya. Ditambah lagi akan segera menghilang lenyap ketika menyentuh ombak.

Termasuk sejenis ketam yang dijuluki kepiting hantu, Ocypode Kuhlii mulai dikenal karena penelitian Heinrich Kuhl, seorang berkebangsaan Jerman yang berdinas di Hindia Belanda.

Jingking menjadi salah satu suku Ocypodidae yang terkenal karena kebiasaan masyarakat pesisir mengolah menjadi bahan makanan, diantaranya peyek jingking.

Penguasa jelajah pantai selatan ini tersebar di hampir setiap wilayah pantai pasir yang terjangkau ombak. Membuat rumah dengan menggali pasir kurang lebih sedalam 30 cm sampai 70 cm. Berukuran sebesar ukuran tubuhnya, tempat bernaung jingking berpindah-pindah dan kadangkala hanya menempati bekas lubang jingking lainnya.jingking laut selatan

Dengan cangkang luar dan tubuhnya yang kecil, geleteng pasir atau jingking tidak terlalu banyak mengandung daging. Dengan morfologi tubuh seperti itu, membersihkan kepiting pantai ini tidaklah terlalu sulit. Cukup dibuka buku-buku pada bagian perut dan cangkang punggungnya, jingking mudah dibersihkan dari butiran pasir yang menempel. Saran pengolahan adalah dengan digoreng, karena perebusan akan menjadikan tulang tidak renyah dan alot sehingga sulit untuk dinikmati.
Saat ini di beberapa obyek wisata peyek jingking ataupun jingking goreng sudah banyak dijual di lapak-lapak tradisional warga sekitar. Warna khas memerah seperti kebanyakan olahan anthropoda laut semakin membuat cemilan ini menarik untuk dicoba. Meski karena kandungan proteinnya yang sangat tinggi sering mengakibatkan alergi, namun tak ada salahnya kita mencobanya sedikit saja. Karena selain di daerah pantai gumuk pasir, olahan ini hampir tidak bisa ditemukan.