Cemara Udang – Sejarah Gumuk Pasir

Tak bisa kita pungkiri bahwa cemara udang adalah bagian sejarah pokok dari gumuk pasir pantai selatan. Kalau kita lihat dari sejarah terbentuknya gumuk-gumuk pasir di pantai selatan Jogja dan sekitarnya. Mulai dari asal pasir yang notabene material keras tanpa pengikat dari letusan gunung api. Terbawa arus sungai hingga terendam di Samudra Hindia.

Otomatis humus maupun lumpur tercuci bersih. Kandungan garam laut selatan sama sekali tidak terlalu membantu gundukan pasir ini. Ketika membentuk gumuk di daratan untuk bisa ditumbuhi pepohonan. Dapat disimpulkan bahwa kondisi gumuk pasir sangatlah gersang.

Tumbuhan yang ada hanyalah perdu dan rerumputan karena memang hasil proses ribuan tahun dari alam tidak menyisakan hara dalam gumuk pasir. Saat ini beberapa hamparan kosong gumuk pasir masih banyak ditemukan.Cemara Udang dan Sejarah Gumuk Pasir Pantai Selatan

Karena desakan lahan, penduduk sekitar pesisir mulai memanfaatkan lahan gumuk pasir. Sebagai tempat pertanian, penggembalaan ternak dan bahkan ladang garam pada masa penjajahan. Saat ini penggunaan lahan telah berkembang hingga ke tingkat hunian,tambak udang serta wisata.
Khususnya di daerah Bantul, ekspansi lahan pertanian dimulai dengan pembuatan ‘legokan’. Legokan adalah sawah buatan di hamparan pasir yang dibuat lebih dalam agar mendapatkan air karena memang rata-rata di permukaan rendah gumuk pasir tidak lebih dari 3 mdpl.

Lahan pertanian ini oleh warga dibagi dengan aturan adat. Diwariskan secara turun-temurun penggarapannya karena memang secara administratif wilayah gumuk pasir sebagian besar termasuk Sultan Ground.

Warga hanya diperbolehkan menggarap dan mengolahnya namun tidak diijinkan memperjualbelikannya.
Legokan-legokan ini digarap dengan cara diberikan kompos maupun pupuk kandang dari perkampungan.

Diberi tanaman penyangga yang umumnya juga berfungsi sebagai batas lahan seperti pandan, kaktus, hingga seiring bertambahnya subur dan teduh dianami pepohonan dan palawija.

Saat ini beberapa lahan bahkan sudah menggunakan sistem pengairan modern hingga hampir semua produk pertanian dataran rendah bisa ditanam, didukung adanya saluran irigasi serta adanya waduk Embung Bulak Buntung di Wonoroto Gadingsari.
Tentu saja bukan tanpa halangan, sepanjang pantai selatan Bantul mulai dari Pantai Parangtritis hingga Pantai Pandansimo, lahan berpasirnya selalu bergerak dan bergulung akibat hembusan angin laut yang kencang. Akibatnya, lahan pertanian yang letaknya tidak terhalang gumuk tinggi sulit ditanami apapun, apalagi tanaman palawija, karena selalu rusak diterjang angin laut.
Hingga pada tahun 1999 pada tim dari UGM yang diketuai Prof Sutikno dari Fakultas Geografi dan Prof Suhardi (sempat menjabat Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia DIY), mencoba menanam cemara udang di kawasan pantai selatan Bantul.

Cemara udang ini oleh tim Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dari Madura, sebagai tanaman `windbarier` di kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.
Menurut Prof Suhardi, ketika itu berbagai cara telah ditempuh, namun selalu sia-sia tanpa membawa hasil seperti yang diharapkan. Bahkan lahan pertanian setempat makin terdesak, menjauh dari pantai.
Setelah dilakukan penanaman dengan biji maupun bibit pohon, cemara itu tumbuh dengan baik. Maka warga setempat `beramai-ramai` menanam cemara udang. Tidak hanya di kawasan pantai, namun juga di lahan pekarangan mereka.

 Pohon cemara udang dapat melindungi masyarakat di kawasan pantai selatan dari ancaman gelombang tsunami.”Pembuatan lapisan cemara udang di sepanjang pantai dapat digunakan sebagai benteng untuk melindungi penduduk dan tempat berkembangnya satwa yang sangat peka dengan tanda-tanda akan terjadinya tsunami, sehingga dapat memberi isyarat kepada manusia akan datangnya bencana itu,” kata Prof Suhardi, yang juga Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM.

Pohon cemara udang, menurutnya, mampu menahan tiupan angin kencang, hempasan gelombang laut, dan terpaan pasir yang bergulung di sepanjang pantai selatan. Sehingga sangat baik digunakan sebagai `windbarier` di kawasan pantai yang rentan terhadap bahaya angin kencang atau badai selatan dan tsunami.

Habitat Cemara Udang di Pantai Jogja Selatan Saat Ini

Saat ini cemara udang telah tumbuh dan bersambungan dari Pantai Samas sampai Pantai Pandansimo di wilayah Kabupaten Bantul, dan terus berkembang ke barat dari muara Sungai Oya sampai Sungai Opak, Provinsi DIY, sepanjang sekitar sembilan kilometer. Perkembangan tumbuh suburnya cemara jenis itu mencakup wilayah yang semula tidak bermanfaat menjadi bermanfaat seluas sekitar 200 hektar.

“Lahan berpasir di tepi pantai dari Pantai Samas sampai Pandansimo sekitar 10 tahun lalu selalu bergerak bergulung, dan bentuk pantai berubah setiap saat. Udara panas dan tiupan angin menerpa setiap saat, sehingga tidak ada vegetasi yang dapat bertahan pada jarak satu kilometer. Pengaruh angin laut yang berhembus kencang itu dapat mencapai lima kilometer,” katanya.

Suhardi mengatakan lahan pasir tersebut sangat sulit untuk ditanami apapun karena kadar garam yang tinggi dan akibat hembusan angin kencang itu. “Berbagai cara dan upaya telah banyak dilakukan, tetapi selalu sia-sia,” sambungnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, kata dia, UGM mencoba melakukan penanaman dengan berbagai vegetasi. Tetapi selalu berakhir dengan kematian, termasuk usaha awal dengan menanam pohon cemara (bukan cemara udang), nyamplung serta ketapang.

Hingga akhirnya ditemukan jenis cemara udang asal Madura, yang kemudian pada tahun 1999 mulai ditanam di kawasan pantai Bantul. Menurut Prof Suhardi, cemara udang ini sebagai pilihan windbarier, yang ternyata bisa tumbuh di kawasan pantai selatan. Beberapa tahun kemudian wajah pantai mulai berubah dan pasir mulai berhenti bergerak.

Sejak saat itu angin tidak lagi berhembus kencang, karena `dipecah` oleh rimbunnya pohon-pohon cemara udang. Begitu pula pasir pantai tidak lagi bergulung-gulung tertiup angin.

Kata dia, ternak mulai mendekati kawasan pantai yang kini rimbun dengan pohon cemara udang. Dan petanipun makin mendekat pula ke pantai untuk menambah areal wilayah tanamnya. Sambil menikmati indahnya ombak tanpa diterpa angin kencang serta dibakar terik matahari.